Friday, October 9, 2015

Surat Resmi Pengurus Masjid Baitul Muttaqin yang Dibakar

Berikut ini surat dari pengurus masjid Baitul Muttaqin Karubaga Kabupaten Tolikara, tentang 'Permohonan Bantuan'.
Surat pengurs masjid Baitul Muttaqin
Surat pengurs masjid Baitul Muttaqin
Transkrip surat itu adalah sebagai berikut:
Kabupaten Tolikara
Masjid Baitul Mutaqqin
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Bersama dengan ini kami selaku pengurus masjid Baitul muttaqin Karubaga Kabupaten Tolikara melaporkan bahwa pada hari Jum’at tanggal 17 Juli 2015 telah terjadi kerusuhan warga yang menyebabkan bangunan Masjid Baitul Muttaqin Karubaga habis terbakar berikut bersama dengan segala isinya.
Dalam peristiwa tersebut turut pula terbakar bangunan tempat tinggal dan bangunan tempat usaha beberapa warga muslim/muslimat yang berdekatan dengan Masjid Baitul Muttaqin, sehingga beberapa warga tersebut untuk sementara menjadi pengungsi dan secara spontan jatuh miskin.
Sehingga dalam surat ini kami memohon bantuan, uluran tangan dan perhatian dari Bazda Kabupaten Jayawijaya serta seluruh warga muslim dan muslimat se-Kabupaten Jayawijaya untuk dapat membantu meringankan beban penderitaan saudara-saudara kita sesama muslim di Karubaga. Bersama ini pula kami lampirkan Daftar Keluarga Muslim/Muslimat yang menjadi korban langsung atas kejadian kerusuhan warga tersebut.
Demikian perihal ini kami sampaikan, atas bantuan dan perhatian dari Bapak/Ibu/Sdr/i semuanya kami ucapkan banyak terima kasih.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
AN Ketua Masjid Baitul Mutaqqin
Koordinator Seksi Dakwah
Zackson Djohan
Sumber:



BSMI Jayawijaya: 43 Keluarga Jadi Korban Pembakaran Masjid di Tolikara


Warga muslim di Hitigima, Jayawijaya bersama-sama merayakan Idul Fitri 1436 H/BSMI Cab Jayawijaya
Warga muslim di Hitigima, Jayawijaya bersama-sama merayakan Idul Fitri 1436 H/BSMI Cab Jayawijaya

Jayawijaya, Deendaily.com- Sedikitnya 43 keluarga menjadi korban dan harus mengungsi lantaran kios dan rumahnya terbakar dalam peristiwa pembakaran Masjid Baitul Muttaqin, Karubaga. Pembakaran yang dilakukan oleh massa dari Gereja Injili di Indonesia (GIDI) itu terjadi saat kaum muslim hendak melaksanakan shalat idul fitri di Karubaga, Kabupaten Tolikara, Provinsi Papua.
Hal tersebut terungkap dari keterangan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Cabang Jayawijaya, “Data yang berhasil kami kumpulkan ada 43 keluarga yang membutuhkan bantuan karena usaha dan rumahnya ikut terbakar” ujar BSMI Cabang Jayawijaya, (19/7).
Lebih lanjut, lembaga kemanusiaan yang bermarkas di Jalan Sumbawa No 4 Wamena, Papua itu juga menyatakan korban membutuhkan bantuan sandang dan pangan, “Pihak masjid sudah melayangkan surat permohonan bantuan ke Baitul Mal, MUI dan Bazda. Selain itu ketua HIKMA perkumpulan masyarakat Enrekang (di Tolikara-red) dan beberapa tokoh meminta pemerintah untuk segera membangun kembali masjid di Tolikara” jelas BSMI Cabang Jayawijaya melalui akun twitter resminya @BsmiJayawijaya.
Sementara itu sebagian korban dari masyarakat muslim tetap bertahan di Karubaga dan sebagian lainnya sudah berada di Wamena dengan alasan keamanan.
“Kondisi sekarang sudah aman terkendali, jangan lagi kita memperkeruh suasana. Mari kita hadapi dengan hati yang lapang dan kepala dingin, semua insya Allah ada solusinya” demikian tulis BSMI Cabang Jayawijaya. (STA)
Sumber

Begini 6 Cara Media Mengaburkan Kasus Pembakaran Masjid di Papua

Papan-nama-Masjid-Baitul-Muttaqin-yang-tersisa-eramuslim
Sebuah masjid di Tolikara, Papua dibakar saat shalat Idul Fitri, Jum’at (17/7/2015) lalu. Segera, peristiwa itu menjadi berita di hampir seluruh media. Namun, ternyata banyak pemberitaan yang mengaburkan kebenaran.
Berikut ini 6 cara media mengaburkan kasus pembakaran Masjid di Tolikara Papua:

‘Yang dibakar adalah mushala’

Banyak media memberitakan bahwa yang dibakar adalah mushala. Baik di judul maupun badan berita, yang disebut adalah mushala. Istilah mushala tentu membuat publik memiliki persepsi berbeda. Mushala itu kecil, tidak dipakai shalat Jum’at. Faktanya, yang dibakar adalah Masjid Baitul Muttaqin.

‘Yang dibakar adalah kios’

Lebih bias lagi, berita-berita yang menyebutkan bahwa yang dibakar adalah kios bukan masjid atau mushala. Berita-berita tersebut bersumber dari Kepala Staf Presiden Republik Indonesia, Luhur Binsar Panjaitan. CNN Indonesia menurunkan dalam berita berjudul “Luhut: Pembakaran Terjadi di Kios Bukan di Musala”

‘Aksi tidak ditujukan kepada umat Islam’

Selain menyebut yang dibakar adalah kios, Luhut juga menyebut bahwa aksi tersebut tidak ditujukan kepada umat Islam. Padahal, kelompok massa yang diketahui berasal dari jemaat GIDI itu sempat menyerang ke arah jamaah shalat Idul Fitri sebelum akhirnya membakar masjid.

Mengubah berita menjadi bias

MetroTV ganti judul
MetroTV ganti judul
Metrotvnews diketahui melakukan perubahan berita yang semula berjudul “Saat Imam Takbir Pertama, Sekelompok Orang Datang dan Lempari Musala di Tolikara” menjadi “Amuk Massa Terjadi di Tolikara”. Isi berita pun diubah, yang semula menyebut “Sejam kemudian, orang-orang itu melempari Musala Baitul Mutaqin yang berada di sekitar lokasi kejadian. Mereka juga membakar rumah ibadah tersebut” diubah menjadi “Sejam kemudian, orang-orang itu melempar batu dan membakar bangunan di sekitar lokasi kejadian. Enam rumah dan sebelas kios pun menjadi sasaran amukan orang-orang itu.”

Mengarahkan pada persepsi umat Islam yang salah

Kendati memberitakan rumah ibadah umat Islam dibakar, sejumlah media banyak memberitakan dari sumber yang menyebut penyebab peristiwa tersebut adalah umat Islam yang memakai speaker atau umat Islam telah diingatkan tidak merayakan hari raya. Berita-berita tersebut agaknya membentuk persepsi pembaca bahwa bagaimanapun juga yang salah adalah umat Islam.

Tidak menyebut tindakan teror dan pelakunya teroris

Ketika ada perusakan rumah ibadah non Muslim, dengan serta merta media-media menyebut aksi tersebut sebagai tindakan teror dan pelakunya adalah teroris. Namun ketika yang dibakar adalah masjid, banyak media enggan menyebut tindakan tersebut sebagai teror dan pelakunya adalah teroris. [Ibnu K/Bersamadakwah]


http://bersamadakwah.net/begini-6-cara-media-mengaburkan-kasus-pembakaran-masjid-di-papua/

Tragedi Tolikara dan Sikap Kita

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Khairil Miswar (Mahasiswa Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
Hari raya Idul Fitri yang jatuh pada 17 Juli 2015 (1 Syawal 1436 H) dirayakan serentak oleh mayoritas muslim di Indonesia dari Sabang sampai Marauke. Namun sayangnya, kesyahduan Idul Fitri tahun ini telah terusik akibat tindakan anarkis-radikal oleh pihak-pihak yang tidak paham atau bahkan anti toleransi.
Minoritas muslim di Kabupaten Tolikara telah ditindas secara brutal oleh sekelompok anak bangsa yang menyebut diri sebagai Gereja Injili di Indonesia (GIDI). Bagi para pelaku, atau pun pihak-pihak lain yang pro pada tindakan “barbarian” ini tentu akan tersenyum lebar. Seakan mereka tersenyum karena berhasil membuat umat Islam kocar-kacir dan shock.
Namun bagi umat Islam, tidak hanya di Tolikara, tetapi di seluruh penjuru negeri, akan menganggap tindakan primitif tersebut sebagai sebuah tragedi yang telah melukai kaum muslimin. Tragisnya lagi, aksi yang jauh dari nilai-nilai peradaban modern tersebut terjadi pada hari suci dan bahkan sakral.
Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi telah berhasil membuat berita yang sedianya hanya diketahui oleh beberapa orang tersebut tersebar luas bak virus. Ia sudah menjadi konsumsi publik, hanya dalam hitungan detik.
Jika tragedi ini terjadi di masa lalu, bukan tidak mungkin ia akan tenggelam dalam pusaran masa akibat mandulnya media-media mainstream yang dikekang oleh rezim otoriter – atau pun disebabkan oleh kehendak mereka sendiri (media) yang memilih berkonspirasi dengan penguasa. Alhamdulillah, kemajuan teknologi saat ini telah berhasil mencerdaskan keawaman publik yang dulunya miskin informasi. Tidak ada lagi yang bisa ditutupi di zaman ini, di mana arus informasi mengalir deras menyisir lorong-lorong sepi di seluruh penjuru negeri.
Dari Surat sampai Speaker
Pascakejadian di Tolikara, media berlomba-lomba menyajikan berita yang kemudian ditanggapi secara beragam oleh publik. Konon, sebelum tragedi itu terjadi, Gereja Injili di Indonesia (GIDI) pernah mengeluarkan surat tentang pelarangan shalat Ied dan juga pelarangan kaum muslimah memakai jlbab di Kabupaten Tolikara.
Jika surat ini benar adanya maka tindakan GIDI telah mendobrak konstitusi RI. Di dalam UUD 1945 sudah jelas tertulis kebebasan beragama dan menjalankan ibadah telah diatur dan harus ditaati oleh setiap anak negeri. Jangan sampai hanya karena ingin mempertahankan hegemoni mayoritas lantas mencabik-cabik konstitusi.
Aceh sebagai provinsi yang dihuni oleh mayoritas muslim dan bahkan telah mendapat izin dari UU untuk melaksakan syariat Islam secara kaffah justru sangat menghargai keberadaan pemeluk-pemeluk agama lain seperti Kristen dan Budha. Saya menyarankan kepada pihak GIDI untuk sesekali “piknik” ke Aceh agar bisa melihat bagaimana kaum muslimin di Aceh menghargai dan memperlakukan non muslim secara terhormat.
Kabar lainnya menyebut bahwa aksi pembakaran masjid di Tolikara disebabkan oleh suara speaker. Saya melihat ini sebagai sebuah sikap apologis yang cenderung tidak rasional dan terlalu dipaksakan guna melakukan justifikasi terhadap ektrimisme. Yang penting dilakukan saat ini bukanlah mencari kambing hitam, tetapi penegakan hukum dengan menangkap para pelaku.

Bulan Sabit Merah Indonesia Menyalurkan Dana Pembangunan Masjid Baitul Muttaqin Tolikara

Masjid yang Kalian Bakar, Akan Segera Kami Bangun Kembali

Relawan BSMI cabagn Jayawijaya
Relawan BSMI cabagn Jayawijaya
Jayawijaya, Deendaily.com- Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Cabang Jayawijaya bergerak cepat menanggapi peristiwa kerusuhan saat pelaksanaan Shalat Ied 1436 Hijriyah (18/7) di Karubaga, Kabupaten Tolikara yang mengakibatkan sebuah masjid habis terbakar.
Melalui akun twitter resminya @BsmiJayawijaya, lembaga kemanusiaan itu menyatakan bahwa hingga 19 Juli 2015 sudah terkumpul dana sebesar Rp 277 Juta yang akan disalurkan untuk pembangunan Masjid Baitul Muttaqin, Karubaga, Tolikara.
“Info terakhir dana yang terkumpul Rp 277 juta, untuk pembangunan kembali Masjid di Karubaga, terima kasih atas partisipasinya” demikian tulis BSMI.
BSMI juga memposting sebuah foto surat berkop “Masjid Baitul Muttaqin, Kabupaten Tolikara” yang berisi permohonan bantuan untuk para korban dan jama’ah Masjid Baitul Muttaqin yang kios serta rumahnya ikut dibakar massa dari Gereja Injili di Indonesia (GIDI), “agar tidak bertanya-tanya lagi, yang di Karubaga itu Masjid” imbuhnya. Karena sebelumnya ramai diberitakan bahwa yang dibakar adalah sebuah Musola kecil.
Seperti ramai diberitakan sebelumnya, sebuah Masjid di Kabupaten Tolikara dibakar umat Nasrani menjelang shalat Ied, sekitar pukul 07 00 WIT, Jumat (17/7). Humas Polri Kombes Agus Rianto mengatakan, kasus itu bermula saat umat Islam Karubaga Kabupaten Tolikara hendak menjalankan shalat Idul Fitri.
Tiba-tiba, sekelompok massa dari luar berteriak-teriak. Umat muslim yang hendak shalat sontak kaget dan langsung melarikan diri ke Koramil dan Pos 756/WMS untuk meminta perlindungan. Sepeninggalan umat muslim itu, Masjid tersebut dibakar.
“Saat itu ada yang berteriak-teriak agar sholat dibubarkan, lalu umat Muslim yang akan melaksanakan sholat langsung berlarian ke Koramil” Ujar Agus, Jum’at lalu.
Bagi kaum muslimin/muslimat yang ingin turut andil dalam pembangunan masjid di Karubaga, Kabupaten Tolikara bisa transfer ke rekening yang khusus BSMI peruntukan bagi pembangunan masjid di Karubaga.
Bank BRI dengan nomor rekening 0311-01-000688-300 atas nama BSMI Cabang Wamena. Setelah melakukan transfer bisa konfirmasi ke ketua BSMI Cabang Jayawijaya, dr Hamdani 085370202121 atau Nur Khoiron 085287185533. (STA)
Sumber:

Nasehat Ust Fadlan Garamatan Terkait Pembakaran Masjid Di Papua

JAKARTA, (Panjimas.com) – Banyak hal yang perlu dipahami apa yang melatarbelakangi kejadian demi kejadian disana. Ujian hasil didikan Ramadhan selama 1 bulan tentang kesabaran langsung Allah uji masih kah itu membekas dan menjadi bagian dalam Ruh dan jiwa kita.
Sehingga ketika melihat sebuah kejadian bukan hanya dengan mata, tapi mampu menghidupkan mata hati agar mampu melihat dengan kecerdasan” yang lebih dalam di setiap persoalan umat secara menyeluruh.
Menggugah dakwah kita, agar saat kita membangun Mushola/ Masjid buatlah dari bahan yg tidak mudah terbakar memang mahaltapi itulah dakwah, memerlukan pengorbanan yang besar semangat berinfak dalam membangun Rumah Allah.
Mengolah satu informasi dengan kecerdasan emosional, agar menjadi sebuah strategi dakwah yang cerdas sebagaimana dakwahnya Rasulullah.Dakwah dengan keteladanan.
“Bersiap-siaplah ketika ada orang-orang yang menghina Islam itu tandanya mereka sebentar lagi akan memeluk Islam. Ingat Papua sedang menjadi sorotan Dunia dimana hampir setiap saat jumlah pemeluk Islam semakin bertambah” ujar Ust Fadlan Garamatan. Sabtu (18/7).
Sikap memberikan keteladanan, akan menguatkan bahwa Islam bukan agama pendendam, namun rahmat bagi seluruh Alam semesta. Sikap sebaliknya hanya akan menimbulkan citra buruk bagi masyarakat dan dunia dan akan semakin mudah menjadi santapan mereka. Ingat kita tak cukup memiliki media informasi.
“Memahami latar belakang Papua, kita harus hidup dan berada diantara mereka kehidupan sosial sangat memberi pengaruh kepada gejala dan kejadian yang berlangsung saat ini. Masih banyak hal lain yang secara spesifik tidak bisa diungkap ke semua orang.” Ujar dai yang berhasil mengislamkan ribuan penduduk Papua .
Doa kita, Semoga Allah beri kekuatan Iman kepada sudara-saudara muslim kita disana. Dan mereka yang hari ini membenci Islam, semoga hidayah datang kepada mereka, sehingga mereka akan merasakan Indahnya Islam.
Keadaan sebenarnya di lapangan, penduduk asli Papua tidak pernah berbuat kericuhan, baik yang muslim maupun kristen. Jikapun ada itu mereka yang sudah terprovokasi dengan para misionaris dan jemaah gereja yang datang dari Toraja, Manado dan Ambon.
“Soal speaker pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla itu tidak benar, itu provokasi saja..”
Ustadz Fadhlan berharap kasus ini kesempatan umat Islam untuk bersatu dan benar-benar memperhatikan dakwah di Papua, masih untung mushola yang dibakar. Jadikan ini peluang umat bersatu menggalang dana dan membangun masjid yang sebesar-besarnya di Tolikara.
Para misionaris itu cemburu karena seiring berjalannya waktu semakin bertambah banyak penduduk Papua yang masuk Islam.
http://panjimas.com/news/2015/07/18/nasehat-ust-fadlan-garamatan-terkait-pembakaran-masjid-di-papua/

Thursday, October 8, 2015

Wasiat kepada para istri


Telah bersabda Nabi saw kepada Aisyah ra, ‘Wahai Aisyah, peliharalah rumahmu. Sesungguhnya majoriti wanita di hari kiamat menjadi bahan bakar api neraka. Aisyah berkata: Mengapa begitu wahai Rasulullah? Kata Rasulullah saw: Kerana mereka tidak dapat bersabar ketika kesusahan, tidak bersyukur ketika selesa, dan kufur dengan nikmat.

Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah telah mewajibkan hak para lelaki yang wajib atas wanita tunaikan iaitu mentaati mereka dalam urusan-urusan mereka, tidak berpuasa kecuali dengan izin mereka, sesiapa dikalangan wanita yang berterusan enggan bersama suaminya di di ranjang, akan dilaknat malaikat hingga waktu subuh.

Wahai Aisyah, tiada sesiapa di kalangan wanita yang keluar dari rumahnya tanpa izin suaminya kecuali semua malaikat di langit akan melaknatnya.

Wahai Aisyah, Tiada sesiapa dikalangan wanita yang berkata kepada suaminya: Aku tidak melihat satu kebaikan pun daripada kamu, kecuali Allah akan gugurkan pahala amalann

Wahai Aisyah, tiada sesiapa di kalangan wanita yang melihat suaminya dengan wajah masam kecuali bintang di langit melaknatnya.

Wahai Aisyah, tiada sesiapa di kalangan wanita yang memberati suaminya dalam soal nafkah sesuatu yang dia tidak mampu tidak akan memperolehi rahmat tuhanku dan tidak ada bahagian dari syafaatku.
.
Dan sesiapa di kalangan perempuan berkata kepada suaminya: Moga Allah rehatkan aku daripadamu, dia tidak akan mencium bau syurga.
.
Wahai Aisyah, tiada di kalangan wanita, yang suaminya mengajaknya mengadakan hubungan jenis lalu dia menolaknya, kecuali akan keluarlah kebaikan-kebaikannya seperti keluarnya bijiran dari kulitnya..

Wahai Aisyah, tiada perempuan yang suaminya mengajaknya mengadakan hubungan jenis lalu dia menyambutnya dengan sepenuh hati kecuali Allah akan ampunkan dosa pada hari itu dan malamnya dan dia di dalam pemeliharaan Allah dan jagaanNya.

Wahai Aisyah, tiada perempuan yang menenun dan memakaikan pakaian kepada suaminya kecuali Allah akan memakaikannya dari perhiasan syurga di hari kiamat.

Wahai Aisyah, jika ada wanita yang menyedut lobang hidung suaminya yang mengalir darah dan nanah, dia masih belum dikira membalas jasanya.
.
Wahai Aisyah, berilah khabar gembira bagi isteri yang diredhai suaminya. Sesungguhnya redha suami adalah menjadi sebab keredhaan Allah. Sepertimana redha kedua ibubapa, sesungguhnya derhaka kepada keduanya adalah diantara dosa-dosa besar.

Wahai Aisyah, sesiapa yang sempat bersama kedua ibubapanya tetapi tidak berjaya membawa mereka ke syurga, nescaya Allah tidak akan memasukkannya ke syurga.
Benarlah Rasulullah SAW

Sumber: http://anjangmuor.wordpress.com/2011/08/23/wasiat-untuk-wanita/