Friday, October 9, 2015

Begini 6 Cara Media Mengaburkan Kasus Pembakaran Masjid di Papua

Papan-nama-Masjid-Baitul-Muttaqin-yang-tersisa-eramuslim
Sebuah masjid di Tolikara, Papua dibakar saat shalat Idul Fitri, Jum’at (17/7/2015) lalu. Segera, peristiwa itu menjadi berita di hampir seluruh media. Namun, ternyata banyak pemberitaan yang mengaburkan kebenaran.
Berikut ini 6 cara media mengaburkan kasus pembakaran Masjid di Tolikara Papua:

‘Yang dibakar adalah mushala’

Banyak media memberitakan bahwa yang dibakar adalah mushala. Baik di judul maupun badan berita, yang disebut adalah mushala. Istilah mushala tentu membuat publik memiliki persepsi berbeda. Mushala itu kecil, tidak dipakai shalat Jum’at. Faktanya, yang dibakar adalah Masjid Baitul Muttaqin.

‘Yang dibakar adalah kios’

Lebih bias lagi, berita-berita yang menyebutkan bahwa yang dibakar adalah kios bukan masjid atau mushala. Berita-berita tersebut bersumber dari Kepala Staf Presiden Republik Indonesia, Luhur Binsar Panjaitan. CNN Indonesia menurunkan dalam berita berjudul “Luhut: Pembakaran Terjadi di Kios Bukan di Musala”

‘Aksi tidak ditujukan kepada umat Islam’

Selain menyebut yang dibakar adalah kios, Luhut juga menyebut bahwa aksi tersebut tidak ditujukan kepada umat Islam. Padahal, kelompok massa yang diketahui berasal dari jemaat GIDI itu sempat menyerang ke arah jamaah shalat Idul Fitri sebelum akhirnya membakar masjid.

Mengubah berita menjadi bias

MetroTV ganti judul
MetroTV ganti judul
Metrotvnews diketahui melakukan perubahan berita yang semula berjudul “Saat Imam Takbir Pertama, Sekelompok Orang Datang dan Lempari Musala di Tolikara” menjadi “Amuk Massa Terjadi di Tolikara”. Isi berita pun diubah, yang semula menyebut “Sejam kemudian, orang-orang itu melempari Musala Baitul Mutaqin yang berada di sekitar lokasi kejadian. Mereka juga membakar rumah ibadah tersebut” diubah menjadi “Sejam kemudian, orang-orang itu melempar batu dan membakar bangunan di sekitar lokasi kejadian. Enam rumah dan sebelas kios pun menjadi sasaran amukan orang-orang itu.”

Mengarahkan pada persepsi umat Islam yang salah

Kendati memberitakan rumah ibadah umat Islam dibakar, sejumlah media banyak memberitakan dari sumber yang menyebut penyebab peristiwa tersebut adalah umat Islam yang memakai speaker atau umat Islam telah diingatkan tidak merayakan hari raya. Berita-berita tersebut agaknya membentuk persepsi pembaca bahwa bagaimanapun juga yang salah adalah umat Islam.

Tidak menyebut tindakan teror dan pelakunya teroris

Ketika ada perusakan rumah ibadah non Muslim, dengan serta merta media-media menyebut aksi tersebut sebagai tindakan teror dan pelakunya adalah teroris. Namun ketika yang dibakar adalah masjid, banyak media enggan menyebut tindakan tersebut sebagai teror dan pelakunya adalah teroris. [Ibnu K/Bersamadakwah]


http://bersamadakwah.net/begini-6-cara-media-mengaburkan-kasus-pembakaran-masjid-di-papua/

Tragedi Tolikara dan Sikap Kita

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Khairil Miswar (Mahasiswa Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh)
Hari raya Idul Fitri yang jatuh pada 17 Juli 2015 (1 Syawal 1436 H) dirayakan serentak oleh mayoritas muslim di Indonesia dari Sabang sampai Marauke. Namun sayangnya, kesyahduan Idul Fitri tahun ini telah terusik akibat tindakan anarkis-radikal oleh pihak-pihak yang tidak paham atau bahkan anti toleransi.
Minoritas muslim di Kabupaten Tolikara telah ditindas secara brutal oleh sekelompok anak bangsa yang menyebut diri sebagai Gereja Injili di Indonesia (GIDI). Bagi para pelaku, atau pun pihak-pihak lain yang pro pada tindakan “barbarian” ini tentu akan tersenyum lebar. Seakan mereka tersenyum karena berhasil membuat umat Islam kocar-kacir dan shock.
Namun bagi umat Islam, tidak hanya di Tolikara, tetapi di seluruh penjuru negeri, akan menganggap tindakan primitif tersebut sebagai sebuah tragedi yang telah melukai kaum muslimin. Tragisnya lagi, aksi yang jauh dari nilai-nilai peradaban modern tersebut terjadi pada hari suci dan bahkan sakral.
Kemajuan teknologi komunikasi dan informasi telah berhasil membuat berita yang sedianya hanya diketahui oleh beberapa orang tersebut tersebar luas bak virus. Ia sudah menjadi konsumsi publik, hanya dalam hitungan detik.
Jika tragedi ini terjadi di masa lalu, bukan tidak mungkin ia akan tenggelam dalam pusaran masa akibat mandulnya media-media mainstream yang dikekang oleh rezim otoriter – atau pun disebabkan oleh kehendak mereka sendiri (media) yang memilih berkonspirasi dengan penguasa. Alhamdulillah, kemajuan teknologi saat ini telah berhasil mencerdaskan keawaman publik yang dulunya miskin informasi. Tidak ada lagi yang bisa ditutupi di zaman ini, di mana arus informasi mengalir deras menyisir lorong-lorong sepi di seluruh penjuru negeri.
Dari Surat sampai Speaker
Pascakejadian di Tolikara, media berlomba-lomba menyajikan berita yang kemudian ditanggapi secara beragam oleh publik. Konon, sebelum tragedi itu terjadi, Gereja Injili di Indonesia (GIDI) pernah mengeluarkan surat tentang pelarangan shalat Ied dan juga pelarangan kaum muslimah memakai jlbab di Kabupaten Tolikara.
Jika surat ini benar adanya maka tindakan GIDI telah mendobrak konstitusi RI. Di dalam UUD 1945 sudah jelas tertulis kebebasan beragama dan menjalankan ibadah telah diatur dan harus ditaati oleh setiap anak negeri. Jangan sampai hanya karena ingin mempertahankan hegemoni mayoritas lantas mencabik-cabik konstitusi.
Aceh sebagai provinsi yang dihuni oleh mayoritas muslim dan bahkan telah mendapat izin dari UU untuk melaksakan syariat Islam secara kaffah justru sangat menghargai keberadaan pemeluk-pemeluk agama lain seperti Kristen dan Budha. Saya menyarankan kepada pihak GIDI untuk sesekali “piknik” ke Aceh agar bisa melihat bagaimana kaum muslimin di Aceh menghargai dan memperlakukan non muslim secara terhormat.
Kabar lainnya menyebut bahwa aksi pembakaran masjid di Tolikara disebabkan oleh suara speaker. Saya melihat ini sebagai sebuah sikap apologis yang cenderung tidak rasional dan terlalu dipaksakan guna melakukan justifikasi terhadap ektrimisme. Yang penting dilakukan saat ini bukanlah mencari kambing hitam, tetapi penegakan hukum dengan menangkap para pelaku.

Bulan Sabit Merah Indonesia Menyalurkan Dana Pembangunan Masjid Baitul Muttaqin Tolikara

Masjid yang Kalian Bakar, Akan Segera Kami Bangun Kembali

Relawan BSMI cabagn Jayawijaya
Relawan BSMI cabagn Jayawijaya
Jayawijaya, Deendaily.com- Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) Cabang Jayawijaya bergerak cepat menanggapi peristiwa kerusuhan saat pelaksanaan Shalat Ied 1436 Hijriyah (18/7) di Karubaga, Kabupaten Tolikara yang mengakibatkan sebuah masjid habis terbakar.
Melalui akun twitter resminya @BsmiJayawijaya, lembaga kemanusiaan itu menyatakan bahwa hingga 19 Juli 2015 sudah terkumpul dana sebesar Rp 277 Juta yang akan disalurkan untuk pembangunan Masjid Baitul Muttaqin, Karubaga, Tolikara.
“Info terakhir dana yang terkumpul Rp 277 juta, untuk pembangunan kembali Masjid di Karubaga, terima kasih atas partisipasinya” demikian tulis BSMI.
BSMI juga memposting sebuah foto surat berkop “Masjid Baitul Muttaqin, Kabupaten Tolikara” yang berisi permohonan bantuan untuk para korban dan jama’ah Masjid Baitul Muttaqin yang kios serta rumahnya ikut dibakar massa dari Gereja Injili di Indonesia (GIDI), “agar tidak bertanya-tanya lagi, yang di Karubaga itu Masjid” imbuhnya. Karena sebelumnya ramai diberitakan bahwa yang dibakar adalah sebuah Musola kecil.
Seperti ramai diberitakan sebelumnya, sebuah Masjid di Kabupaten Tolikara dibakar umat Nasrani menjelang shalat Ied, sekitar pukul 07 00 WIT, Jumat (17/7). Humas Polri Kombes Agus Rianto mengatakan, kasus itu bermula saat umat Islam Karubaga Kabupaten Tolikara hendak menjalankan shalat Idul Fitri.
Tiba-tiba, sekelompok massa dari luar berteriak-teriak. Umat muslim yang hendak shalat sontak kaget dan langsung melarikan diri ke Koramil dan Pos 756/WMS untuk meminta perlindungan. Sepeninggalan umat muslim itu, Masjid tersebut dibakar.
“Saat itu ada yang berteriak-teriak agar sholat dibubarkan, lalu umat Muslim yang akan melaksanakan sholat langsung berlarian ke Koramil” Ujar Agus, Jum’at lalu.
Bagi kaum muslimin/muslimat yang ingin turut andil dalam pembangunan masjid di Karubaga, Kabupaten Tolikara bisa transfer ke rekening yang khusus BSMI peruntukan bagi pembangunan masjid di Karubaga.
Bank BRI dengan nomor rekening 0311-01-000688-300 atas nama BSMI Cabang Wamena. Setelah melakukan transfer bisa konfirmasi ke ketua BSMI Cabang Jayawijaya, dr Hamdani 085370202121 atau Nur Khoiron 085287185533. (STA)
Sumber:

Nasehat Ust Fadlan Garamatan Terkait Pembakaran Masjid Di Papua

JAKARTA, (Panjimas.com) – Banyak hal yang perlu dipahami apa yang melatarbelakangi kejadian demi kejadian disana. Ujian hasil didikan Ramadhan selama 1 bulan tentang kesabaran langsung Allah uji masih kah itu membekas dan menjadi bagian dalam Ruh dan jiwa kita.
Sehingga ketika melihat sebuah kejadian bukan hanya dengan mata, tapi mampu menghidupkan mata hati agar mampu melihat dengan kecerdasan” yang lebih dalam di setiap persoalan umat secara menyeluruh.
Menggugah dakwah kita, agar saat kita membangun Mushola/ Masjid buatlah dari bahan yg tidak mudah terbakar memang mahaltapi itulah dakwah, memerlukan pengorbanan yang besar semangat berinfak dalam membangun Rumah Allah.
Mengolah satu informasi dengan kecerdasan emosional, agar menjadi sebuah strategi dakwah yang cerdas sebagaimana dakwahnya Rasulullah.Dakwah dengan keteladanan.
“Bersiap-siaplah ketika ada orang-orang yang menghina Islam itu tandanya mereka sebentar lagi akan memeluk Islam. Ingat Papua sedang menjadi sorotan Dunia dimana hampir setiap saat jumlah pemeluk Islam semakin bertambah” ujar Ust Fadlan Garamatan. Sabtu (18/7).
Sikap memberikan keteladanan, akan menguatkan bahwa Islam bukan agama pendendam, namun rahmat bagi seluruh Alam semesta. Sikap sebaliknya hanya akan menimbulkan citra buruk bagi masyarakat dan dunia dan akan semakin mudah menjadi santapan mereka. Ingat kita tak cukup memiliki media informasi.
“Memahami latar belakang Papua, kita harus hidup dan berada diantara mereka kehidupan sosial sangat memberi pengaruh kepada gejala dan kejadian yang berlangsung saat ini. Masih banyak hal lain yang secara spesifik tidak bisa diungkap ke semua orang.” Ujar dai yang berhasil mengislamkan ribuan penduduk Papua .
Doa kita, Semoga Allah beri kekuatan Iman kepada sudara-saudara muslim kita disana. Dan mereka yang hari ini membenci Islam, semoga hidayah datang kepada mereka, sehingga mereka akan merasakan Indahnya Islam.
Keadaan sebenarnya di lapangan, penduduk asli Papua tidak pernah berbuat kericuhan, baik yang muslim maupun kristen. Jikapun ada itu mereka yang sudah terprovokasi dengan para misionaris dan jemaah gereja yang datang dari Toraja, Manado dan Ambon.
“Soal speaker pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla itu tidak benar, itu provokasi saja..”
Ustadz Fadhlan berharap kasus ini kesempatan umat Islam untuk bersatu dan benar-benar memperhatikan dakwah di Papua, masih untung mushola yang dibakar. Jadikan ini peluang umat bersatu menggalang dana dan membangun masjid yang sebesar-besarnya di Tolikara.
Para misionaris itu cemburu karena seiring berjalannya waktu semakin bertambah banyak penduduk Papua yang masuk Islam.
http://panjimas.com/news/2015/07/18/nasehat-ust-fadlan-garamatan-terkait-pembakaran-masjid-di-papua/

Thursday, October 8, 2015

Wasiat kepada para istri


Telah bersabda Nabi saw kepada Aisyah ra, ‘Wahai Aisyah, peliharalah rumahmu. Sesungguhnya majoriti wanita di hari kiamat menjadi bahan bakar api neraka. Aisyah berkata: Mengapa begitu wahai Rasulullah? Kata Rasulullah saw: Kerana mereka tidak dapat bersabar ketika kesusahan, tidak bersyukur ketika selesa, dan kufur dengan nikmat.

Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah telah mewajibkan hak para lelaki yang wajib atas wanita tunaikan iaitu mentaati mereka dalam urusan-urusan mereka, tidak berpuasa kecuali dengan izin mereka, sesiapa dikalangan wanita yang berterusan enggan bersama suaminya di di ranjang, akan dilaknat malaikat hingga waktu subuh.

Wahai Aisyah, tiada sesiapa di kalangan wanita yang keluar dari rumahnya tanpa izin suaminya kecuali semua malaikat di langit akan melaknatnya.

Wahai Aisyah, Tiada sesiapa dikalangan wanita yang berkata kepada suaminya: Aku tidak melihat satu kebaikan pun daripada kamu, kecuali Allah akan gugurkan pahala amalann

Wahai Aisyah, tiada sesiapa di kalangan wanita yang melihat suaminya dengan wajah masam kecuali bintang di langit melaknatnya.

Wahai Aisyah, tiada sesiapa di kalangan wanita yang memberati suaminya dalam soal nafkah sesuatu yang dia tidak mampu tidak akan memperolehi rahmat tuhanku dan tidak ada bahagian dari syafaatku.
.
Dan sesiapa di kalangan perempuan berkata kepada suaminya: Moga Allah rehatkan aku daripadamu, dia tidak akan mencium bau syurga.
.
Wahai Aisyah, tiada di kalangan wanita, yang suaminya mengajaknya mengadakan hubungan jenis lalu dia menolaknya, kecuali akan keluarlah kebaikan-kebaikannya seperti keluarnya bijiran dari kulitnya..

Wahai Aisyah, tiada perempuan yang suaminya mengajaknya mengadakan hubungan jenis lalu dia menyambutnya dengan sepenuh hati kecuali Allah akan ampunkan dosa pada hari itu dan malamnya dan dia di dalam pemeliharaan Allah dan jagaanNya.

Wahai Aisyah, tiada perempuan yang menenun dan memakaikan pakaian kepada suaminya kecuali Allah akan memakaikannya dari perhiasan syurga di hari kiamat.

Wahai Aisyah, jika ada wanita yang menyedut lobang hidung suaminya yang mengalir darah dan nanah, dia masih belum dikira membalas jasanya.
.
Wahai Aisyah, berilah khabar gembira bagi isteri yang diredhai suaminya. Sesungguhnya redha suami adalah menjadi sebab keredhaan Allah. Sepertimana redha kedua ibubapa, sesungguhnya derhaka kepada keduanya adalah diantara dosa-dosa besar.

Wahai Aisyah, sesiapa yang sempat bersama kedua ibubapanya tetapi tidak berjaya membawa mereka ke syurga, nescaya Allah tidak akan memasukkannya ke syurga.
Benarlah Rasulullah SAW

Sumber: http://anjangmuor.wordpress.com/2011/08/23/wasiat-untuk-wanita/ 

Orang-orang yang Mempertuhan Nafsu

Di dalam Al-Qur'an kata "hawa" digunakan untuk mengungkapkan sisi jahat dari jiwa manusia. Hawa diartikan sebagai nafsu dan segala sesuatu yang merusak manusia. Panduan untuk orang kafir adalah sisi jahat dari jiwa, yang bernama hawa, memuaskan nafsu menjadi gaya hidup mereka. Akibatnya, segala kemampuan mental dan usaha dipusatkan demi kepuasan nafsu mereka. Dalam keadaan seperti itu, menjadi tidak mungkin bagi orang kafir untuk memahami agama.
Dan di antara mereka ada yang mendengarkan perkataanmu tapi tidak mengacuhkannya. Sehingga manakala mereka keluar dari tempatmu, mereka bertanya kepada orang-orang yang telah dapat ilmu: "Apakah yang dikatakannya tadi?" Itulah orang-orang yang telah ditutup mata hatinya oleh Allah. Mereka menuruti segala keinginan nafsunya. Muhammad 16
Orang yang menyerahkan dirinya kepada sisi jahat dari jiwanya akan salah dalam mengambil keputusan karena nafsu dan egolah yang dijadikan dasar untuk menilai benar dan salah. Dalam Al-Qur'an, hal ini dinamakan "mempertuhan nafsu".
Apakah engkau tahu tentang orang yang "mempertuhan" hawa nafsunya? Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmunya Tuhan sudah mengetahui, bahwa orang itu meskipun diberi keterangan apapun, namun mereka tidak juga akan beriman, sedangkan Dia telah mengunci erat pendengaran dan hatinya, serta menutup penglihatannya. Siapakah yang dapat menunjukinya, kalau Allah sudah membiarkannya sesat? Apakah kamu tidak dapat mengambil pelajaran dari padanya? Al-Jatsiyah:23
Di dalam Al-Qur'an, orang yang mengikuti nafsu disebut sebagai "buta dan tuli". Sebaliknya orang mukmin diberkahi dengan suara hati yang membuat mereka mampu menilai benar dan salah serta wawasan yang mendalam yang membuat mereka mampu mengambil pelajaran dari kejadian di sekeliling mereka. Berikut contoh dari orang-orang dan kelompok-kelompok yang hampa pengertian karena mempertuhan nafsu:
Katakanlah: "Hai ahli kitab, janganlah kalian berlebih-lebihan dalam menanggapi agama kalian. Dan janganlah kalian turuti hawa nafsu golongan yang telah sesat pada masa yang lampau. Mereka telah menyesatkan banyak orang, sedang mereka sendiri telah sesat pula dari jalan yang benar. Al-Maidah:77
Katakanlah: "Sesungguhnya aku dilarang menyembah apa yang kamu sembah, selain dari Allah". Katakanlah: "Aku tidak akan menuruti hawa nafsumu, karena jika aku berbuat demikian, serta merta sesatlah aku, dan aku tidaklah termasuk bilangan orang-orang yang mendapat petunjuk. Al-An'am:56
Mengapa kamu tidak mau memakan binatang sembelihan yang disebut nama Allah waktu menyembelihnya? Padahal Allah telah menjelaskan kepadamu apa-apa yang telah diharamkan-Nya, kecuali kalau kamu terpaksa memakannya. Kebanyakan orang benar-benar hendak menyesatkan orang lain sekehendak hatinya, tanpa berdasarkan pengetahuan. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang melanggar peraturan-Nya. Al-An'am:119
Demikianlah Kami telah menurunkan Al-Qur'an yang berisi norma-norma hukum dalam bahasa Arab Bahasa Arab adalah bahasa yang terkaya di dunia dalam hal-hal yang berhubungan dengan ketuhanan. Bahasa yang hidup, lengkap, dan luas. Dan bila engkau ikuti hawa nafsu kelompok itu Maksudnya mengikuti hawa nafsu kelompok Yahudi dan Nasrani, asal mereka senang, misalnya berkiblat ke Baitil Maqdis kembali, setelah engkau dapatkan ilmu, maka tidak ada yang akan menolong dan melindungimu dari siksaan Allah. Ar-Ra'du:37
Adakah engkau perhatikan orang-orang yang mempertuhankan nafsunya. Adakah engkau dapat menjadi pengawas atasnya? Al-Furqan:43
Hai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu orang-orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi semata-mata karena Allah, biarpun terhadap dirimu sendiri ataupun ibu-bapa dan kaum kerabatmu. Sekalipun terdakwa itu kaya atau miskin, maka Allah lebih mengutamakan persamaan hak dan kewajiban terhadap keduanya Maksudnya hak asasi manusia. Maka janganlah mengikuti hawa nafsu untuk memperkosa keadilan. Dan kalau kamu memutarbalikkan kenyataan atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. An-Nisa:135
Namun orang-orang yang durhaka itu hanya mau mengikuti kemauan nafsunya sendiri saja, tanpa berdasarkan ilmu! Siapakah yang dapat memimpin orang yang sudah disesatkan oleh Allah itu? Tidak ada orang yang mau menolong mereka! Ar-Rum:29
Karena itu, sekali-kali janganlah pendirianmu dapat dipalingkan oleh orang-orang yang tidak mempercayai Hari Kiamat itu. Jangan pula engkau turutkan hawa nafsu mereka, nanti engkau binasa. Ta-Ha:16
Andaikata kebenaran yang ditandaskan Al-Qur'an itu yang harus menurut kemauan hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini beserta isinya. Sebenarnya kami berikan Al-Qur'an itu kepada mereka, demi untuk kebanggaan mereka sendiri, tetapi mereka tidak mau mengindahkan apa yang membawa kemuliaannya itu. Al-Mu'minun:71
Kami telah menurunkan kitab Al-Qur'an kepadamu yang mengandung kebenaran. Membenarkan kitab yang ada terlebih dahulu, yaitu Taurat dan Injil dan sebagai pengawas dan pemelihara terhadap kitab yang lain itu. Karena itu adililah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah kamu turuti hawa nafsu mereka yang akan membelokkan dari kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantaramu, Kami telah berikan pola syari'at dan jalan hidup yang benar. Sekiranya Allah menghendaki, pastilah kamu dijadikanNya satu umat saja, namun Tuhan hendak mengujimu dalam soal karunia yang telah diberikan kepadamu, karena itu berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah tempat kembali kalian, lalu Tuhan beritahukan kepada kalian apa-apa yang telah kalian perselisihkan itu. Dan hendaklah kamu mengadili perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu turuti hawa nafsu mereka. Dan waspadalah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak menyesatkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka tidak mengindahkan keputusan yang telah diturunkan Allah kepadamu, maka ketahuilah bahwa Allah bermaksud hendak menjatuhi hukuman di dunia ini juga terhadap dosa-dosa mereka, sebelum di akhirat kelak. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Al-Maidah:48-49
Mengikuti nafsu membuat seseorang buta pada kesalahannya. Orang semacam itu berulang kali bertemu dengan bencana.
Diterjemahkan dari "The Basic Concepts in The Qur'an" karya Harun Yahya www.harunyahya.com. Terjemahan Al-Qur'an dikutip dari "Terjemah dan Tafsir Al-Qur'an" susunan Bachtiar Surin terbitan Fa. SUMATRA Bandung.

Salawat Badawi


Sumber: http://anjangmuor.wordpress.com/2011/08/10/syeikh-ahmad-al-badawi/

Beliau adalah Syeikh Ahmad Badawi berasal dari Kota Fas, Magribi. Seorang ulama sufi & wali Allah yang sangat terkenal di dunia sufi ini lahir pada tahun 596 H. Nama sebenarnya Ahmad bin Ali Ibrahim bin Muhammad bin Abi Bakr al-Badawi. Berketurunan Nabi saw, karena nasabnya sampai pada Ali Zainal Abidin bin Husain bin Ali bin Abi Talib, suami Saiyidah Fatimah binti Saiyidina Nabi Muhammad saw.

Keluarga Badawi  bukan penduduk asli Fas. Mereka berasal dari Bani Bara, suatu kabilah Arab di Syam yang berhijrah tinggal di Negara Arab paling barat ini. Di sinilah Ahmad kecil menghafal al-Qur’an mengkaji ilmu-ilmu agama khususnya fekah Mazhab Syafie. Pada tahun 609 H ayahnya membawanya pergi ke tanah Haram bersama saudara-saudaranya untuk melaksanakan ibadah haji. Mereka tinggal di Makah selama beberapa tahun sampai ayahnya meninggal dunia pada tahun 627 H dan dimakamkan di Ma’la.

Syeikh Ahmad Badawi selalu mengenakan tutup muka. Suatu ketika berkhalwat selama empat puluh hari tidak makan dan minum. Waktunya dihabiskan untuk melihat ke langit. Tiba-tiba dia mendengar suara tanpa rupa (hatif), berkata: “Berdirilah !” lalu suara itu terus mengucapkan kata-kata, carilah tempat terbitnya matahari. Bila jumpa, carilah pula tempat terbenamnya matahari. Kemudian…berpindahlah ke Tanta, satu Bandar di Gharbiyah, Mesir. Di sanalah tempatmu wahai pemuda”.

Suara tanpa rupa itu seakan membimbingnya ke Iraq. Di sana ia bertemu dengan dua orang wali Allah yang terkenal iaitu Syeikh Abdul Kadir Al Jailani dan Syeikh Ar Rifa’i. “Wahai Ahmad ” kata kedua orang wali Allah itu kepada Syeikh Ahmad Al Badawi seperti mengeluarkan arahan. ” Kunci-kunci rahsia wilayah Iraq, India, Yaman, as-Syarq dan al-Gharbiyah di genggaman kita. Pilihlah mana yang kamu suka “. Tanpa disangka-sangka Al Badawi menjawab, “Saya tidak akan mengambil kunci tersebut kecuali dari Zat Yang Maha Membuka.

Perjalanan selanjutnya adalah Mesir negeri para nabi dan ahli bait. Syeikh Ahmad masuk ke Mesir pada tahun 634 H. Di sana ia bertemu dengan Al Zahir Bibers dengan tenteranya. Mereka menyanjung dan memuliakan wali Allah ini. Namun takdir sudah menetukan ia harus melanjutkan perjalanan menuju tempat yang dimaksud oleh bisikan ghaib, Tanta, satu kota yang banyak melahirkan tokoh-tokoh dunia. 

Dia laksana laut, diam tenang tapi dalam dan penuh dengan mutiara, itulah Syeikh Ahmad Al Badawi. Syeikh  Matbuli berkata, “Rasulullah SAW bersabda kepadaku, ” Setelah Muhammad bin Idris As Syafe tidak ada wali di Mesir yang fatwanya lebih berpengaruh daripada Ahmad Badawi, Nafisah, Syarafuddin Al Kurdi kemudian Al Manufi. Syeikh Matbuli hidup bukan di zaman Rasulullah saw, dia mendapatnya dengan karamah kewaliannya.

Suatu ketika Ibnu Daqiq Eid mengutus Abdul Aziz Ad Darini untuk menguji Syeikh Ahmad Badawi dalam berbagai permasalahan. Dengan tenang dia menjawab, “Jawapan soalan-soalan itu terdapat dalam kitab ‘Syajaratul Ma’arif’ karya Syaikh Izzuddin bin Abdus Salam. Ertinya beliau juga amat menguasai ilmu-ilmu syariat malah menghafaznya.

Karamah lahiriah bukanlah satu-satunya ukuran tingkat kewalian seseorang, tetapi tidak ada salah disebutkan beberapa karmah Syeikh Ahmad Badawi sebagai bukti betapa hebatnya orang-orang Tuhan ini. 

Diantaranya seperti yang biasa kita dengar bahawa beliau ni sentiasa menutup wajahnya dengan kain dari pandangan manusia. Dalam masa yang sama, ia mempunyai pengikut yang ramai. Maka ramailah dikalangan ulama yang berhasad dengki, mengadu kepada pemerintah bahawa Syeikh Ahmad mengamalkan ajaran sesat, sebab itu dia menutup mukanya.Sultan yang memerintah ketika itu memanggilnya ke istana untuk mengetahui duduk perkara dan memaksanya membuka kain penutup mukanya. Bila sahaja dibuka kain tersebut, memancarlah cahaya dari wajahnya yang sangat menyilaukan pandangan. Tahulah Sultan bahawa beliau adalah wali Allah. Setelah itu diketahui rahsia cahaya mukanya adalah kerana dia beramal dengan selawat yang dikenali selepas itu dengan ‘Selawat Badawi.’ 

Diceritakan  ada seorang Syeikh yang hendak bermusafir. Sebelum bertolak dia meminta pendapat pada Syeikh Ahmad Badawi yang sudah berbaring tenang di alam barzakh. Nisbah lahir sudah meninggal dunia, sedangkan para wali tidak mati seperti orang biasa. Mereka hanya berpindah alam, roh mereka masih berperanan.

“Pergilah, dan tawakkallah kepada Allah SWT” tiba-tiba terdengar suara dari dalam makam Syeikh Ahmad Badawi.

Tersebut kisah Syeikh Ahmad Badawi suatu hari berkata kepada seorang laki-laki yang memohon panduan dalam perniagaannya. “Simpanlah gandum untuk tahun ini. Karena harga gandum nanti akan melambung tinggi, tapi ingat, kamu harus banyak bersedekah pada fakir miskin”. Nasihatnya benar-benar dilaksanakan oleh laki-laki itu. Setahun kemudian dengan izin Allah kejadian itu terbukti benar. Ini memperlihatkan orang Tuhan mendapat sumber ilmu dari Tuhannya, tidak terbatas dengan persoalan akhirat semata-mata.

Pada tahun 675 H sejarah mencatat kehilangan tokoh besar yang mewarnai dunia Islam dengan cinta dan takut Tuhan. Dengan kasih sayang sesama manusia. Syeikh Ahmad Badawi yang tidak berkahwin ini berpindah ke alam baqa’ dekat dengan kekasihnya Allah swt. Jasadnya dikebumikan di Tanta, Mesir.

Beberapa waktu setelah kepergian wali pujaan ini, umat Islam seperti tidak tahan, menanggung rindu akan kehadirannya. Maka diadakanlah di hari ulangtahun kelahirannya, diadakan majlis merayakannya, maka sejarah mencatat, orang ramai datang umpama gelombang banjir dari berbagai tempat yang jauh. Kerinduan, kecintaan, pengabdian mereka tumpahkan pada hari itu pada sufi agung ini. Hal inilah kiranya yang menyebabkan sebagian ulama dan pegawai agama ditahun-tahun selepas itu cuba menghalang  acara maulid ini untuk mengelakkan bid’ah kononnya. Ia terjadi hanya satu tahun sahaja. Tahun berikutnya perayaan diadakan kembali hingga sekarang.