Saturday, April 16, 2016

Hendaknya Imam Shalat Membaca Basmalah

Sumber: http://www.madinatuliman.com/3/3/360-hendaknya-imam-lebih-baik-membaca-basmalah.html

Hendaknya Imam Shalat Membaca Basmalah


Seperti yang masyhur kita ketahui, membaca Surat Al Fatihah merupakan salah satu rukun dalam shalat. Surat Al Fatihah adalah surat yang agung sehingga diwajibkan untuk dibaca pada tiap raka’at shalat. Demikian menurut para Imam Mazhab, kecuali Mazhab Imam Abu Hanifah sebagaimana disebutkan dalam kitab Fiqh Islami wa Adilatuhu karya Syekh Wahbah Az Zuhaily, bahwa dalam Mazhab Imam Abu Hanifah hukumnya makruh tahrim jika tidak membaca Al Fatihah namun tidak sampai membatalkan shalat.
 
لا تجوز الزيادة بخبر الواحد الظني على ما ثبتت فرضيته بالدليل القطعي في القرآن، ولكن خبر الواحد يوجب العمل به، لا فرضيته، فقالوا بوجوب قراءة الفاتحة فقط، أي أن الصلاة تصح بتركها مع الكراهة التحريمية
"Tidak diperbolehkan menambah dengan hadits ahad secara dzonni (prasangka) atas apa-apa yang telah disebutkan kefardhuannya dengan dalil yang qoth’i (pasti) di dalam Al Quran. Akan tetapi hadits ahad wajib diamalkan, bukan fardhu. Para ulama Mazhab Hanafi berkata atas kewajiban membaca Al Fatihah saja, maksudnya hukum shalat adalah sah dengan meninggalkan (membaca) Al Fatihah secara makruh tahrim (makruh yang mendekati haram). (Fiqh Islami wa Adillatuhu II/32).
 
Saya tidak akan membahas secara panjang lebar perihal khilaf ulama’ mengenai hukum membaca Al Fatihah dalam shalat karena saya rasa hampir tidak ada orang shalat tanpa membaca Al Fatihah. Di sini saya akan berfokus pada bacaan Basmalah karena hal ini sering membingungkan teman-teman saya yang belum mengetahui status dan hukum Basmalah.
 
Beberapa minggu yang lalu saya menerima sms dari teman saya, sebut saja namanya Beni Setyawan (bukan nama samaran) yang isinya menanyakan apakah Basmalah merupakan bagian dari Al Fatihah atau bukan. Kemudian saya membalasnya bahwa Basmalah merupakan bagian dari Al Fatihah. Karena pada waktu itu sedang sibuk, maka saya tidak sempat menjelaskan secara lebih detil. Mungkin teman-teman saya yang lain juga banyak yang bertanya-tanya tentang hal ini, karena ketika berjama’ah sebagian Imam membaca Basmalah secara jahr (keras), ada yang membaca secara sirr (samar), dan ada juga yang tidak membacanya.
 
Baiklah, agar menjadi netral, di sini saya akan mencoba memaparkan status Basmalah dan hukum membacanya ketika shalat menurut para Imam empat mazhab sejauh pengetahuan dan kapasitas saya yang masih belajar fiqh kelas ibtida’ (dasar) dan Al Quran yang masih “Turutan”. Jika Pembaca bertanya menurut saya yang benar yang mana, saya hanya bisa menjawab kesemuanya benar berdasarkan metode istinbath (penggalian hukum) masing-masing, akan tetapi saya pribadi mengamalkan pendapat Imam Syafi’i.
 
Basmalah menurut Mazhab Hanafi (Imam Abu Hanifah)
 
Mazhab Hanafi berpendapat bahwa Basmalah bukan merupakan bagian dari Al Fatihah. Adapun membaca Basmalah pada Al Fatihah ketika shalat hukumnya sunnah dan dibaca secara sirr (samar).
 
ليست البسملة آية من الفاتحة ولا من غيرها من السور إلا من سورة النمل في أثنائها ، لحديث أنس رضي الله تعالى عنه قال: «صليت مع رسول الله صلّى الله عليه وسلم وأبي بكر وعمر وعثمان رضي ا لله عنهم، فلم أسمع أحداً منهم يقرأ بسم ا لله الرحمن الرحيم». لكن يقرأ المنفرد بسم الله الرحمن الرحيم مع الفاتحة في كل ركعة سراً، كما أنه يسر بالتأمين، فالتسمية والتأمين يسر بهما القارئ. أما الإمام فلا يقرأ البسملة ولا يسر بها لئلا يقع السر بين جهرين، قال ابن مسعود: «أربع يخفيهن الإمام: التعوذ، والتسمية، والتأمين، والتحميد»
"Basmalah bukanlah ayat dari Al Fatihah dan bukan pula ayat dari surat-surat yang lain kecuali di tengah-tengah surat An-Naml. Berdasarkan hadits dari Sayyidina Anas -radhiyAllahu ‘anhu-: “Saya shalat bersama Rasulullah -shallAllahu ‘alayh wa aalih wa sallam-, Abu Bakar, Umar, dan Utsman -radhiyAllahu ‘anhum-, maka aku tidak mendengar satu pun dari mereka membaca Bismillahirrahmanirrahim” (HR Muslim dan Ahmad). Akan tetapi orang yang shalat munfarid (sendiri) membaca Bismillahirrahmanirrahim pada Al Fatihah di setiap rakaat secara samar, sebagaimana menyamarkan pula pada Ta’min (membaca ‘aaamiiin’), maka pembaca membaca Basmalah dan Ta’min secara samar. Adapun Imam maka tidak membaca Basmalah dan tidak menyamarkan bacaannya supaya tidak menyamarkan di antara dua jahr. Ibnu Mas’ud berkata: “Empat hal yang Imam meringankan bacaannya: ta’awudz, tasmiyah (Basmalah), ta’min, dan tahmid (bacaan: Robbana lakal hamdu)”  (Fiqh Islami wa Adillatuhu II/22).
 
فكان أبو حنيفة وأصحابه يقولون بقراءتها فى الصلاة سرا، لا يرون الجهر بها لامام ولا لمنفرد، بعد الاستفادة وقبل فاتحة الكتاب تبركا بها فى الركعة الأولى كالتعوذ، باتفاق الروايات عن أبى حنيفة، وذلك مسنون فى المشهور عند أهل المذهب.
"Adapun Imam Abu Hanifah dan para ulama’ mazhabnya berkata tentang membaca Basmalah di dalam shalat secara samar. Mereka tidak meriwayatkan membaca Basmalah secara keras bagi Imam maupun bagi orang yang shalat sendirian. (Basmalah dibaca) setelah istifadah dan sebelum Al Fatihah untuk mencari berkah dengannya di dalam rakaat pertama seperti halnya ta’awudz menurut kesepakatan riwayat-riwayat dari Imam Abu Hanifah. Membaca Basmalah disunnahkan menurut pendapat yang masyhur di kalangan ulama’ mazhab Hanafi. (Al-Mausu’ah Al-Fiqh Al-Islami I/17).
 
 
Basmalah menurut Mazhab Maliki (Imam Malik bin Anas)
 
Menurut Mazhab Maliki, Basmalah bukan ayat dari Al Fatihah dan tidak disunnahkan membacanya di dalam shalat baik keras maupun samar. Adapun membacanya maka hukumnya makruh.
 
وليست البسملة عند المالكية آية من الفاتحة، فلا يقرؤها في الصلاة المكتوبة، جهراً كانت أو سراً، لا في الفاتحة، ولا في غيرها من السور.
"Dan menurut Mazhab Maliki, Basmalah bukan ayat dari Al Fatihah. Maka tidak dibaca pada shalat maktubah (shalat lima waktu) baik keras maupun samar, tidak pula dibaca pada Al Fatihah dan pada surat-surat lain". (Fiqh Islami wa Adillatuhu II/30).
 
المالكية قالوا : يكره الإتيان بالتسمية في الصلاة المفروضة سواء كانت سرية أو جهرية الا إذا نوى المصلي الخروج من الخلاف فيكون الإتيان بها أول الفاتحة سرا مندوبا والجهر بها مكروه في هذه الحالة أما في صلاة النافلة فإنه يجوز للمصلي أن يأتي بالتسمية عند قراءة الفاتحة
"Ulama’ Mazhab Maliki berkata: Makruh hukumnya membaca Basmalah di dalam shalat fardhu baik dibaca secara keras maupun samar, kecuali jika si mushalli (orang yang shalat) berniat untuk keluar dari khilaf (perbedaan pendapat) ulama’, maka dia membaca Basmalah di awal surat Al Fatihah secara samar yang hukumnya sunnah, atau dibaca keras yang hukumnya makruh pada tingkah ini. Adapun pada shalat sunnah maka boleh bagi mushalli untuk membaca Basmalah ketika membaca Al Fatihah". (Fiqh ‘ala Madzahib Arba’ah I/301).
 
 
Basmalah menurut Mazhab Syafi’i (Imam Muhammad bin Idris As-Syafi’i)
 
Menurut Mazhab Syafi’i, Basmalah merupakan bagian dari ayat surat Al Fatihah sehingga wajib dibaca ketika shalat. Dan dibaca dengan keras ketika menjadi Imam shalat berjama’ah.
 
والبسملة عند الشافعية آية من الفاتحة، لما رواه البخاري في تاريخه أنه صلّى الله عليه وسلم عدّ الفاتحة سبع آيات، وعدّ: بسم ا لله الرحمن الرحيم آية منها. وروى الدارقطني عن أبي هريرة أنه صلّى الله عليه وسلم قال: «إذا قرأتم الحمد لله ، فاقرؤوا بسم ا لله الرحمن الرحيم، إنها أم القرآن، وأم الكتاب، والسبع المثاني، وبسم ا لله الرحمن الرحيم إحدى آياتها» (1) ، ولأن الصحابة رضي ا لله عنهم أثبتوها فيما جمعوا من القرآن، فيدل على أنها آية منها.
 
"Adapun menurut Mazhab Syafi’i, Basmalah merupakan ayat dari Al Fatihah. Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhori dalam kitab Tarikh-nya bahwa sesungguhnya Rasulullah -shallAllahu ‘alaih wa aalih wa sallam- menghitung Al Fatihah sebanyak tujuh ayat dan menghitung ‘Bismillahirrahmanirrahim’ sebagai salah satu ayat daripadanya. Dan diriwayatkan oleh Imam Ad-Daruquthni dari Abi Hurairah bahwa sesungguhnya Rasulullah -shallAllahu ‘alaih wa aalih wa sallam- bersabda: “Jika kalian membaca ‘Alhamdulillah’, maka bacalah ‘Bismillahirrahmanirrahim’. Sesungghnya itu adalah Ummul Quran, Ummul Kitab, dan Sab’ul Matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang). Dan ‘Bismillahirrahmanirrahim’ salah satu ayat daripadanya”. (1) Dan karena sesungguhnya para sahabat -radhiyAllahu ‘anhum- menetapkan ‘Bismillahirrahmanirrahim’ ke dalam pengumpulan Al Quran, maka hal itu menunjukkan bahwa sesungguhnya ‘Bismillahirrahmanirrahim’ adalah ayat daripadanya.”
 
(1) وهناك أحاديث أخرى في موضوع البسملة، منها ما رواه البخاري ومسلم وابن خزيمة بإسناد صحيح عن أم سلمة. وهذا الحديث رواه الدارقطني وصوب وقفه (سبل السلام:173/1)
(1) Dan terdapat hadits lain yang membahas Basmalah. Di antaranya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, Imam Muslim, dan Imam Ibnu Khuzaimah dengan sanad yang shahih dari Ummi Salamah. Adapun hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ad-Daruquthni (Subulus Salam 1/173). (Fiqh Islami wa Adillatuhu II/26).
 
أخبرنا أبو طاهر نا أبو بكر نا محمد بن إسحاق الصنعاني أخبرنا خالد بن خداش نا عمرو بن هارون عن ابن جريج عن بن أبي مليكة عن أم سلمة : أن النبي صلى الله عليه و سلم قرأ في الصلاة بسم الله الرحمن الرحيم فعدها آية والحمد لله رب العالمين آيتين وإياك نستعين وجمع خمس أصابعه
"Menceritakan kepadaku Abu Thahir, menceritakan kepadaku Abu Bakar, menceritakan kepadaku Muhammad bin Ishaq As-Shan’ani, menceritakan kepadaku Khalid bin Khadasy, menceritakan kepadaku ‘Amr bin Harun, dari Ibnu Juraij, dari Ibnu Abi Mulikah, dari Ummi Salamah: “Sesungguhnya Nabi -shallAllahu ‘alaih wa aalih wa sallam- membaca ‘Bismillahirrahmanirrahim’ di dalam shalatnya, maka beliau menghitungnya sebagai satu ayat, dan ‘Alhamdulillahirabbil’alamin’ dua ayat, dan ‘Iyyakanasta’in’ beliau mengumpulkan lima jarinya.” (Shahih Ibnu Khuzaimah, hadits nomor 493, I/248).
 
أخبرنا أبو طاهر نا أبو بكر نا محمد بن عبد الله بن عبد الحكم أخبرنا أبي و شعيب – يعني ابن الليث – قالا أخبرنا الليث نا خالد ح وحدثنا محمد بن يحيى نا سعيد بن أبي مريم أخبرنا الليث حدثني خالد بن يزيد عن بن أبي هلال عن نعيم المجمر قال : صليت وراء أبي هريرة فقرأ بسم الله الرحمن الرحيم ثم قرأ بأم القرآن حتى بلغ ولا الضالين فقال : آمين وقال الناس : آمين ويقول كلما سجد : الله أكبر وإذا قام من الجلوس قال : الله أكبر ويقول إذا سلم : والذي نفسي بيده إني لأشبهكم صلاة برسول الله صلى الله عليه و سلم جميعها لفظا واحدا
"Menceritakan kepadaku Abu Thahir, menceritakan kepadaku Abu Bakar, menceritakan kepadaku Muhammad bin Abdulloh bin Abdul Hakam, menceritakan kepadaku ayahku dan Syu’aib -yaitu Ibnu Laits- mereka berdua berkata: menceritakan kepadaku Al-Laits, menceritakan kepadaku Khalid, menceritakan kepadaku Muhammad bin Yahya, menceritakan kepadaku Sa’id bin Abi Maryam, menceritakan kepadaku Al-Laits, menceritakan kepadaku Khalid bin Yazid, dari Abi Hilal, dari Nu’aim Al-Majmar berkata: “Aku shalat di belakang Abu Hurairah maka beliau membaca ‘Bismillahirrahmanirrahim’ kemudian membaca Ummul Kitab sampai ‘wa laddhoolliin’, kemudian beliau berkata ‘aamiin’, dan jama’ah berkata ‘aamiin’. Beliau berkata ketika hendak sujud ‘Allahu Akbar’, dan ketika bangun dari duduk ‘Allahu Akbar’. Dan beliau berkata ketika usai salam: ‘Demi Dzat yang jiwaku ada di genggaman-Nya! Sesungguhnya aku telah mencontohkan kepada kalian shalat bersama Rasulullah -shallAllahu ‘alaih wa aalih wa sallam- secara keseluruhan’ dengan satu lafadz.” (Shahih Ibnu Khuzaimah, hadits nomor 499, I/251).
 
 
Basmalah menurut Mazhab Hambali (Imam Ahmad bin Hambal)
 
Menurut Mazhab Hambali, Basmalah merupakan ayat dari Al Fatihah. Adapun cara membacanya adalah dengan samar.
 
وقال الحنابلة: البسملة آية من الفاتحة يجب قراءتها في الصلاة، لكن يقرأ بها سراً، ولا يجهر بها.
Berkata ulama Mazhab Hambali: Basmalah merupakan ayat dari Al Fatihah dan wajib membacanya di dalam shalat, tapi dibaca secara samar, dan tidak dikeraskan atas bacaannya. (Fiqh Islami wa Adillatuhu II/30).
 
Jika kita melihat dari pendapat para Imam Mazhab di atas, kita dapat mengamati bahwa bagaimanapun juga, membaca Basmalah tidak membatalkan shalat. Paling banter hukumnya adalah makruh, sebagaimana pendapat Mazhab Maliki, namun tidak sampai membatalkan shalat. Namun di sisi lain, ada mazhab yang mewajibkan membaca Basmalah, yaitu Mazhab Syafi’i dan Hambali, yang shalat tidak akan sah jika tidak membacanya.
 
Hal ini juga berlaku dalam shalat jama’ah. Jika Imam tidak membaca Basmalah, sedangkan di antara makmum-nya ada yang bermazhab Syafi’i atau Hambali, maka hal ini bisa membatalkan shalat si Makmum. Dengan terpaksa dan tanpa ada pilihan lain, si Makmum mau tidak mau harus mufaroqoh (berpisah dari jama’ah) agar shalatnya bisa sah, tentunya dengan terpaksa pula kehilangan pahala shalat berjama’ah. Jika shalatnya adalah shalat maktubah, mungkin tidak terlalu menjadi masalah karena si makmum bisa mufaroqoh untuk mengerjakan shalat sendiri. Tentunya akan sangat merepotkan jika Imam tidak membaca Basmalah ketika shalat Jumat, karena si Makmum akan kehilangan shalat Jum’at, dan terpaksa shalat Dzuhur sendirian.
 
Dengan menimbang kemaslahatan bersama (win-win solution), saya berpendapat dan mengusulkan bahwa si Imam seharusnya membaca Basmalah, walaupun itu secara samar, agar semua jama’ah bisa sah shalatnya dan sama-sama mendapat pahala shalat berjama’ah.
 
Semoga tulisan ini bermanfaat dan dapat menjadi perhatian para Imam agar bijak dalam menjadi Imam.
 
 
Oleh : Moh. Erwan Hasbulloh Bashiddiq
Direktorat Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan RI

No comments:

Post a Comment